Jilan Fitri:
Kakak

Tidak bosan-bosannya saya mengingatkan diri saya sendiri, akan ‘ketimpangan’ saya dalam berbagi perhatian dengan anak pertama.

Banyaknya harapan dan ekspektasi berbanding jauh dengan perhatian dan kasih sayang yang harus diterimanya.

Ini adalah sebagian dari apa yang orang tua harapkan dari si sulung:

Mandiri, Disiplin, Sabar, Berbagi, Tanggung jawab, Turut mengasuh, ngalah.

Yang terlupa adalah, setua apapun ia (sebelum 18th) ia tetap anak. Ia memiliki hak hak nya sebagai anak.

Ketika ibu memerlukan sesuatu, pasti yang dipanggil yang sulung dulu walau ia baru berusia 3 tahun.

Begitu juga jika ada yang berantem atau teriak, mesti si sulung yang disalahkan atau ditanya terlebih dahulu.

Kalau ibu kerepotan, berbagi tugas dengan si kakak dulu, ‘kak tolongin ibu ya nak.. tolong ini.. terus itu, makasih ya nak’.

Lupa kita, dia masih anak – anak, walau usianya hanya selisih setahun dari adiknya, besar ekpektasi dan harapan, tidak sesuai dengan jarak usia. Dia tetap perlu bermain, dimenangkan, dituakan, dihormati, dikasih kesempatan, dan bebas dari dimarahin setiap kali ada yang berseteru.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki situasi dan kondisi ini?

1. Jangan mengharuskan.Buang jauh kata ‘harus’. Sebagai sulung, ia tak melulu harus menjadi kakak yang melakukan semuanya atau sesuatu. Harus mengalah, harus ini, harus itu. Anak kedua dan seterusnya juga punya keharusan yang kurang lebih sama. Coba sesuaikan porsinya. Jangan berat sebelah. Jangan kata ‘harus’ menempel pada si kakak saja. Berlaku adil lah. Allahkan menilai kita.

1. Adik turut membantu. Si adik, yang no 2,3,4 dst.walau bisa dibilang kecil atau muda, bukan berarti harus bebas dari tanggungan apapun. Merekapun bisa dilatih membantu atau mengerjakan sesuatu. Misalnya si tengah usianya 3 th, kan bisa kalau sekedar diminta tolong ambil popok adiknya. Bagi rata tugas sesuai usia, sedari dini. Mulai dari sekarang.

3. Hormat
Hormati si kakak. Ajari adik untuk juga menghormatinya. Jangan menegur kesalahannya depan adik. Jangan melulu memenangkan keinginan/kemauan sang adik. Kasih privacy yang lebih, keleluasaan yang lebih. Sesuai dengan tanggung jawab dan usianya. Misalnya, si kakak perlu tidur 30 menit lebih dari adik, biarkanlah. Itu kan yang bisa merasa ia dibedakan juga dalam hak nya. Begitu pula jika ada tontonan yang lebih pantas untuk usianya, tapi tidak pantas untuk adik-adiknya, kasih kesempatan itu sembari mengalihkan adik-adiknya dan mengajak mereka bermain.

Berikan rasa bahwa menjadi kakak dan anak sulung itu SPECIAL. Bukan hanya dari sisi tanggung jawab, tapi juga dari sisi hak nya. Jika si kakak merasa ia juga special, Insha Allah, ia akan menjadi kakak yang lebih baik untuk adik-adiknya.

Bukankah jika kita gembira, kita ingin melakukan banyak hal lebih baik?

Jangan lupa, karena hadir si sulunglah, gelar ayah dan mama kita sandang. Sebelumnya, kita hanya anak.. lalu suami dan istri. Yang pertama memanggil kita: ibu, bunda, mama.. adalah mulut kecilnya!

Peluk ia banyak-banyak. Banyak sekali hutang kita sama sulung kita. Waktu yang terbagi, kesabaran yang terbatas, pendampingan yang tidak maksimal, ekspektasi yang tinggi. Tataplah ia, walau sudah mulai jangkung fisiknya, didalamnya tetap ada buah hati tersayang, yang senantiasa rindukan pelukan mamanya, yang andai ia boleh berharap, ia ingin sehariii saja, kembali menjadi anak satu-satunya!

😊

Salam sayang penuh cinta buat sulung ibu dan bapak dari saya 😘.

*silahkan di share jika dirasa bermanfaat. Tidak perlu izin, asal mencantumkan sumbernya

Wina Risman
17 Oct 2017

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *